Beragam alasan orang berpuisi.
Ada yang ingin menjadi sastrawan,
menjadi puitis, menjadi pujangga,
atau sekadar ingin namanya
dikenal lewat kata-kata.
Ada yang ingin menjadi sastrawan,
menjadi puitis, menjadi pujangga,
atau sekadar ingin namanya
dikenal lewat kata-kata.
Aku tidak sesederhana itu.
Ada seorang wanita
yang ingin kupuja lewat kata,
ingin kubahagiakan lewat diksi,
dan ingin kudampingi lewat puisi.
yang ingin kupuja lewat kata,
ingin kubahagiakan lewat diksi,
dan ingin kudampingi lewat puisi.
Namanya Fara.
Aku menulis bukan karena ingin disebut pandai merangkai kata.
Aku menulis karena ada seseorang
yang membuat kata-kata terasa punya tujuan.
Aku menulis karena ada seseorang
yang membuat kata-kata terasa punya tujuan.
Mungkin puisi adalah caraku
mengabadikan hal-hal kecil tentangmu—
senyummu, tawamu,
caramu hadir,
dan segala hal sederhana
yang entah bagaimana
mampu membuat hariku berbeda.
mengabadikan hal-hal kecil tentangmu—
senyummu, tawamu,
caramu hadir,
dan segala hal sederhana
yang entah bagaimana
mampu membuat hariku berbeda.
Meskipun kamu adalah guru Bahasa Indonesia,
aku tidak ingin membuatmu sibuk
mengoreksi puisiku.
aku tidak ingin membuatmu sibuk
mengoreksi puisiku.
Biarkan saja jika ada diksi yang kurang tepat,
kalimat yang terlalu panjang,
atau tanda baca yang sesekali keliru.
kalimat yang terlalu panjang,
atau tanda baca yang sesekali keliru.
Sebab ada satu hal
yang mungkin tidak pernah diajarkan
dalam pelajaran Bahasa Indonesia:
yang mungkin tidak pernah diajarkan
dalam pelajaran Bahasa Indonesia:
bagaimana membuat
seorang perempuan tersenyum
hanya dengan beberapa baris kata.
seorang perempuan tersenyum
hanya dengan beberapa baris kata.
Untuk urusan itu,
aku masih menjadi muridmu.
aku masih menjadi muridmu.
Aku belajar dari senyummu,
belajar dari tawamu,
belajar dari caramu menjadi dirimu sendiri.
belajar dari tawamu,
belajar dari caramu menjadi dirimu sendiri.
Dan mungkin,
selama masih ada kamu,
aku akan selalu punya alasan
untuk menulis satu puisi lagi.
selama masih ada kamu,
aku akan selalu punya alasan
untuk menulis satu puisi lagi.
Bukan untuk menjadi pujangga.
Bukan untuk terlihat puitis.
Bukan untuk terlihat puitis.
Hanya karena aku ingin melihatmu bahagia.
Jadi, Fara,
kalau puisiku hari ini belum sempurna,
jangan buru-buru memberiku nilai.
kalau puisiku hari ini belum sempurna,
jangan buru-buru memberiku nilai.
Sebab aku tidak sedang mengejar nilai sempurna.
Aku hanya sedang berusaha
mendapatkan satu hal
yang jauh lebih berharga:
mendapatkan satu hal
yang jauh lebih berharga:
senyum dari guruku sendiri.
Dan kalau akhirnya kamu tersenyum setelah membacanya,
anggap saja hari ini
muridmu berhasil mengerjakan tugasnya.
❤️
anggap saja hari ini
muridmu berhasil mengerjakan tugasnya.
❤️